Category Archives: Budaya Hidup orang UK

Mengintip Peradaban Sebuah Kota dari Sungainya

… bengawan Solo, riwayat mu ini. Sedari dulu jadi perhatian insani. Di musim kemarau, tak seberapa air mu. Di musim hujan … -Gesang.

Jembatan Sungai Trent, Nottingam

Jembatan, Bebek di Sungai Trent, Nottingam, UK (Dok. Pribadi)

Tidak berlebihan rasanya jika sungai atau kali (bahasa jawa) dikatakan banyak menyimpan sejarah peradaban manusia dari jaman ke jaman. Ibarat pembuluh darah dalam tubuh manusia, sungai memiliki peran penting dalam menyokong kehidupan umat manusia. Mengalirkan air kehidupan, membawa kesuburan, menawarkan sumber penghidupan dan keberkahan yang melimpah ruah, tetapi terkadang juga menjadi sumber petaka.

Ketika masyarakat masih hidup sederhana, daerah sekitar aliran sungai selalu menjadi daerah padat penduduk. Kerajaan-kerajaan dan pesantren-pesantren di tanah Jawa misalnya, biasanya mereka berada  di pinggir aliran sungai.

Rasanya, lagu mbah Gesang, Bengawan Solo, yang legendaris dan saya yakin akan selalu hidup itu, cukup indah melukis betapa pentingnya sungai di tengah-tengah peradaban umat manusia. Setiap sungai menyimpan riwayat cerita sendiri bagi orang-orang yang hidup di sekitarnya.

Kali Setail, Riwayat mu Dulu dan Sekarang

kali_setail_jemb_gantung_updated

Kiri: Sungai (Kali) Setail, Desa Plampangrejo. Kanan: Jembatan Bambu (Sesek Pring) Sungai setail (source: http://www.awedionline.com)

Buat saya pribadi, satu-satu nya sungai yang menjadi bagian tak terpisahkan dari riwayat hidup saya adalah sungai setail, di dusun ringin pitu, desa Plampangrejo, kecamatan Cluring, kabupaten Banyuwangi. Sumber air sungai ini berasal dari gunung Raung, mengalir ke wilayah selatan kemudian ke wilayah timur kabupaten banyuwangi, dan bermuara di selat bali atau samudera hindia. Di pinggir sungai inilah mbah saya, mbah H. Abdul Fatah, memulai cerita kehidupan di tanah rantau, tanah osing Banyuwangi, setelah meninggalkan kampung halamanya di kabupaten Tegal, Jawa Tengah, dan bertekad untuk tidak kembali lagi hingga akhir hayatnya. Bahkan, anak cucu nya pun tidak pernah diperkenankan tahu menahu dimana tepatnya kampung halaman beliau. Hanya karena sebuah alasan harga diri, tidak mau pulang kampung karena tidak mau dianggap meminta bagian harta warisan jika pulang ke kampung halaman.

Masa kecil saya menyaksikan sendiri bagaimana kali setail menjadi bagian kehidupan orang-orang di kampung kami. Kali setail yang airnya yang jernih dan segar, dengan pasir dan batu kerikil dari gunung raung yang melimpah, yang menjadi tempat mandi, cuci dan toilet terbuka untuk semua warga. Lelaki, perempuan, anak-anak, dewasa menjadi satu. Bahkan juga untuk sapi dan kerbau. Kali setail juga menjadi kolam renang gratis untuk anak-anak kampung. Lumban adalah istilah untuk berlama-lama berenang dan menyelam dalam air sungai. Argh, sungguh kenangan masa kecil yang teramat indah. Dan kenangan itu sekarang sudah benar-benar mati.

Saat itu, kali setail juga sumber kehidupan yang barokah. Ada puluhan jenis ikan sungai yang melimpah. Ada ikan tombro, tawes, wader, uceng, udang, empet, remis, lele, sepat, kocolan, dan ikan-ikan yang saya tak mampu lagi saya mengingatnya. Ikan-ikan itu begitu mudahnya didapat dengan dijala, dijaring, diseser, atau dijebak dengan besangan alias jebakan ikan yang dibuat dari lidi kayu bambu. Atau ketika kaline dilontor, yaitu ketika pintu air Dam/bendungan air untuk irigasi dibuka 3 bulan sekali, mengalirkan air warna kecoklatan. Ratusan warga desa berbondong-bondong pergi ke sungai, beramai-ramai, bersorak riang, menangkapi ikan-ikan sungai yang semaput minggir di bibir sungai dengan seser dan jaring. Duh, saya jadi kangen menikmati renyah dan nikmatnya rempeyek udang kali setail.

Pinggir kali setail juga tempat bermain yang indah. Gundukan pasir lembut bercampur debu adalah tempat yang sempurna untuk bermain perang-perangan. Dikelilingi rerimbunan tananman kerangkong yang bunganya berbentuk seperti terompet, berwarana putih keungu-unguan, dikerumuni seranga lady bug yang sayapnya indah berwarna-warni. Dan juga buah ceplukan yang rasa buahnya aduhai manis sekali. Serta pohon bendo, yang menjatuhkan biji-bijian yang kalau digoreng kereweng (penggorengan dari tanah liat, tanpa minyak) rasanya paling nikmat sedunia. Ada juga sasak gantung, jembatan gantung dari bambu di atas kali setail , penghubung desa lor kali dan kidul kali yang menjadi tempat bermain pemacu adrenalin paling menantang, yang tidak kalah dengan roller coaster.

Sekarang, setiap kali pulang kampung, aku biasa pergi duduk di pinggir sungai setail, sambil mengenang betapa indahnya masa kecil saya. Memandang aliran kali setail yang sedang sekarat dan kesepian. Mengenang ribuan kenangan-kenangan masa kecil yang telah mati. Air sungai yang dulu airnya jernih dan mengalir, kini tak ubahnya bak kubangan kerbau, tercemar dan kotor. Bebatuan dan pasir sungai yang dulu melimpah sudah habis dijual warga ditukar dengan lembaran rupiah-rupiah. Jangan tanya akan ikan, udang, empet dan remis ! Mereka semua sudah musnah, sejak sebagian warga ada yang serakah membunuh seluruh penghuni alami sungai dan bayi-bayi nya dengan obat kimia pembunuh serangga.

Jangan tanya pula gerombolan anak-anak yang dulu bermain riang di pinggir sungai. lumban berjam-jam di tengah aliran sungai yang mengalir deras. Yang ada hanyalah sepi. Sungai yang sudah sekarat hampir mati, tak ada lagi tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Warga pun yang dulu selalu mandi bersama, sekarang sudah punya kamar mandi keluarga. Pun, anak-anak yang dulu selalau bermain bersama, sekarang mereka asyik di depan TV keluarga. Keluarga sudah menjadi penjara-penjara kecil bagi warga desa, yang dulu seolah-seolah mereka adalah satu keluarga.

Inikah yang namanya kemajuan jaman yang menjanjikan segala kemudahan dan perbaikan itu? Tapi, entahlah hati saya selalu seperti merasa kehilangan yang teramat dalam. Kehilangan suasana masa lalu yang selalu saya rindukan setiap pulang ke kampung halaman.

Pesona Sungai Trent, Nottingham

Di salah satu akhir pekan pada musim panas kemaren, untuk mengobati kangen akan kampung halaman, saya bersama keluarga bermain menyusuri Sungai Trent yang berada di pinggir kota Nottingham. Lokasinya, tidak jauh dari city centre, naik bus nomor 1-10, hanya butuh waktu sekitar 10 menit. Turun di Jembatan Trent, yang lokasinya berdekatan dengan stadion Nottingham Forest, klub sepak bola kebanggaan warga Nottingham. Entahlah, ketika menyusuri sungai ini, kenangan indah masa kecil saya terasa hidup kembali.

Sungainya sangat well-developed , sepertinya dibangun dengan penerepan hydrology yang mutakhir. Airnya jernih seperti kaca, airnya melimpah, mengalir mengelilingi kota Nottingham. Ada rerimbunan pohon dan rerumputan hijau yang terawat rapi menghadirkan suasana pedesaan , memanjakan mata memandang . Suasananya tenang, hawanya teduh, udaranya segar.

Main di Pinggir Sungai

Main di Pinggir Sungai (Dok. Pribadi)

Di sisi kiri dan kanan sepanjang aliran sungai ada jalur pejalan kaki dan jalur sepeda yang cukup lebar. Lengkap dengan kursi-kursi kenangan yang menghadap ke sungai. Di akhir pekan itu, saya melihat banyak orang, tua, muda, anak-anak, berlalu lalang menyusuri pinggiran sungai dengan berjalan kaki atau bersepeda. Ada juga yang memancing ikan, atau sekedar duduk manis di kursi-kursi kenangan sambil membaca buku sendirian, menghadap aliran sungai.

Jalur Pejalan Kaki dan Sepeda

Jalur Pejalan Kaki dan Sepeda Yang Luas (Dok. Pribadi)

Dalam airnya yang jernih, masih terlihat tanda-tanda kehidupan ikan. Gerombolan burung pelikan, camar, bebek, dan angsa pun ikut meramaikan suasana sungai yang indah dan hangat di musim panas itu. Mereka seolah hidup damai berdampingan menciptakan sebuah harmoni alam.

Sepedahan di Pinggir Sungai

Sepedahan, Mancing, di Pinggir Sungai (Dok. Pribadi)

Ada Jembatan cantik di atas sungai, yang menarik dijadikan latar belakang foto pre-wedding. Ada juga perahu-perahu bersandar di tepi sungai, dan boat trip mengelilingi kota nottingham via jalur sungai yang juga background foto-foto yang indah. Di sekitar pinggiran sungai itu juga terdapat lapangan olah raga yang luas, taman bermain anak-anak dengan berbagai jenis permainan lengkap dengan kolam renang gratis. Puluhan bahkan mungkin ratusan anak-anak berkumpul, bermain gembira, betah berjam-jam disana. Sungguh, bak syurganya anak-anak.

Boat trip di Sungai

Boat trip di Sungai (Dok. Pribadi)

Di tempat ini, di pinggir sungai ini, kenangan masa kecil ku yang telah mati seolah hidup kembali dan hadir kembali. Sungai yang hidup, alam yang harmoni, dan tawa ceria anak-anak di pinggir sungai itu seolah menghadirkan masa kecil saya kembali. Ratusan bahkan ribuan supporter sepak bola yang berjalan berduyun-duyun sepanjang pinggir sungai menuju stadion Nottingham forest itu mengingatkan ku pada menjelang ritual sepei di kali setail.

Bebek Mandi di Sungai (Dok. Pribadi)

Bebek Mandi di Sungai (Dok. Pribadi)

Argh ternyata, kemajuan jaman tak harus membunuh kenangan. Ternyata, kemajuan jaman tak harus membinasakan harmoni sang alam. Bahkan justru melestariakan. Tiba-tiba, saya bermimpi, suatu saat kali setail saya yang sekarat hampir mati, suatu saat akan hidup kembali seperti sungai Trent Nottingham ini. Tapi, entah kapan?


Sebungkus Tisu Gratis dan Ayat-ayat Injil

… ketika ilmu pengetahuan mampu menyingkap dan menjelaskan fenomena alam, manusia, dan kehidupan; teknologi mampu menyelesaikan dan memudahkan berbagai  permasalahan kehidupan umat manusia; seni, hiburan dan cinta mampu memenuhi kebutuhan batin mereka, serta hukum dan etika mampu membuat kehidupan menjadi aman dan nyaman. Bukan rahasia lagi, di negara-negara maju di Eropa, termasuk Inggris salah satunya, banyak Gereja  yang dulu pernah atas nama Tuhan begitu mencampuri kehidupan manusia, kini telah ditinggalkan para jamaahnya.  Seolah, ipteks telah menjadi Tuhan baru di dunia barat. Akankah  agama menjadi binasa? atau sebaliknya, agama masih memiliki seribu nyawa?

tisu_injil_a

Tisu Gratis (Tampak Depan)

Di satu malam, beberapa hari yang lalu, ketika pulang dari kampus dan membuka pintu rumah. Sepatu saya, tak sengaja menginjak sebuah benda empuk, yang ternyata sebungkus tisu. Tisu anti virus dan bakteri penangkal influenza, yang  biasa merebak ke anak-anak kecil menjelang pergantian musim gugur ke musim dingin. Saya pikir itu belanjaan istri saya yang terjatuh. Ternyata istri saya bilang bukan, dan ternyata di balik tisu itu menempel stiker  tulisan tangan dua ayat dari Bible (kitab Injil). Saya pun hanya tersenyum, karena saya dan istri sudah pasti bisa menebak darimana tisu itu berasal?

tisu_injil_b

Tisu tampak belakang (dengan 2 ayat Injil )

Lalu dari mana tisu itu sebenarnya berasal? saya bisa menebak tisu itu pasti berasal dari perempuan-perempuan tua berkulit hitam, berambut putih. Yang hampir setiap hari berkeliling dari pintu ke pintu, mengabarkan berita injil. Mengajak setiap orang yang ditemui berdiskusi tentang Tuhan, atau menyebarkan selebaran berisi berita-berita Injil, dan termasuk membagikan tisu gratis ditempeli dua ayat injil ini.

Di Inggris, dan umumnya di negara-negara eropa lainya, bukan rahasia lagi gereja banyak ditinggalkan para jamaahnya. Akibatnya, banyak gereja yang kalau diibaratkan di Indonesia ada disetiap RT itu yang sepi bahkan banyak yang beralih fungsi. Di sekitar kota Nottingham saja misalnya, banyak gereja yang dibiarkan menjadi gereja tua dibiarkan begitu saja, dimakan usia, menjadi rumah laba-laba. Sebagian lagi berubah fungsi menjadi islamic centre, bahkan ada yang menjadi Pub tempat dugem (baca: mereka berpesta pora di rumah Tuhan ). Dan sebagian masih berfungsi sebagai rumah Tuhan. Bukan rahasia lagi, sedikit sekali orang Inggris yang rajin pergi ke gereja di hari Minggu. Dari sedikit yang datang itu kebanyakan adalah justru warga pendatang, atau orang Inggris kulit hitam. Dulu, ketika masih tinggal di shared house saya pernah bertanya ke dua house mates saya yang mengaku kristen, kenapa mereka tidak pergi ke Gereja. Jawabnya, sangat sederhana: malas karena jauh. Saya tertawa saja dalam hati, lahwong ada gereja jarak beberapa rumah saja dari tempat kami  tinggal.

Bagian dari budaya barat adalah bersosialisasi dengan cara party, kumpul teman dan minum minuman berakohol, di setiap malam Minggu hingga larut malam, sehingga sangat wajar kalau minggu pagi adalah saat paling senyap dalam seminggu, karena mereka masih pada teler dan tidak sadar di kasur mereka masing-masing. Katanya, mereka hanya pergi ke gereja kalau menikah saja. Itupun, sekarang banyak yang memilih tidak menikah, dan hidup bersama sebagai life partner alias kumpul kebo, dari pada hidup bersama sebagai husband/wife. Hari natal pun, tak lebih dari even budaya (baca: arti natal yang berbeda di Inggris), yang kehilangan ruh keagamaanya.

Walaupun mereka meninggalkan gereja, bukan berarti kehidupan di dunia barat menjadi kacau balau. Bahkan justru kalau mau jujur, tata kehidupan di barat, di Inggris khususnya jauh lebih islami daripada di Indonesia khususnya, dan negara-negara Islam umumnya. Bahkan kondisi lebih islami ini sudah dikonfirmasi dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam sebuah Jurnal (How Islamic are Islamic Countries? , baca juga: Ireland ‘leads the world in Islamic values as Muslim states lag’). Karena di barat agama sudah tidak dipahami lagi sebagai sebuah ritual dan ajaran dogmatis, teteapi agama dipahami sebagai nilai kebaikan kemanusiaan yang universal, yang mereka praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendek kata, meskipun mereka tidak pernah ke gereja, tetapi mereka lebih jujur, lebih bisa dipercaya, lebih tepat waktu, lebih santun, lebih adil, lebih peduli, ketimbang orang-orang Indonesia pada umumnya, yang terkenal sangat religius.

Walaupun banyak yang meninggalkan gereja, bukan berarti agama telah mati di barat. Sebagian dari aktivis gereja masih sangat aktif mengabarkan injil dari pintu ke pintu. Bahkan di wilayah yang jelas-jelas mayoritas muslim seperti wilayah tempat kami tinggal di wialayah hyson green Nottingam ini. Menyebarkan brosur dan membagi-bagikan kitab injil gratis di antara keramaian orang di city centre.  Saya yakin ini tidak hanya ada di Kristen, di agama saya, Islam pun juga ada. Misal teman-teman saya di Jamaah Tabligh misalnya, mereka juga berdakwah dari pintu ke pintu,ke pelosok-pelosok dusun untuk mengajak orang-orang mengingat Tuhan dan memakmurkan masjid. Pun demikian saya yakin ada juga di agama lain seperti hindu, budha, dsb.

Sehingga, betul sekali apa yang pernah diungkapkan oleh Prof. Komaruddin Hidayat (Rektor, UIN Syahid Jakarta), bahwa agama tidak akan pernah mati, agama memiliki 1000 nyawa. Tak semua sisi kehidupan manusia mampu dijelaskan dan diselesaikan oleh ipteks, disitulah Agama mampu menjawabnya.

Semoga kita semakin arif dan dewasa dalam memahami agama kita !


Sepenggal Cerita di Hari Tua

tentang_hari_tua

Kawan, apa yang kau pikirkan tentang sebuah hari tua?
Dihari ketika raga kita semakin tak berdaya. Ketika kulit kita mulai kendur, wajah kita tak setampan dan secantik dikala muda lagi. Otak pun tak lagi tajam dalam berfikir. Perlahan, kita pun kehilangan memori ingatan kita. Hari-hari ketika kita semakin mendekati ketidakberdayaan. Hari-hari ketika tak ada lagi yang bisa kita sombongkan. Sebelum akhirnya, kita pun musnah, benar-benar tiada dari panggung kehidupan dunia yang sementara ini.

Sebagian dari kita mungkin membayangkan hari tua yang indah. Menikmati manis buah perjuangan ketika muda, bersama lucunya cucu cicit kita. Hari tua yang penuh kehangatan kasih sayang orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Hari-hari ketika kita semakin dekat dan mengenal Tuhan, yang ketika muda sering kita lupakan. Hari-hari ketika kita semakin bijak memaknai kehidupan. Yang coba kita abadikan dalam goresan tulisan sebagai warisan abadi untuk anak turun kita.

Kawan, kita pun tak ingin membayangkan, akan hari tua yang penuh sepi kesendirian. Tiada hari berlalu tanpa kesedihan. Hari-hari penuh rintihan penyesalan. Ketika orang-orang tiada lagi memperhatikan. Hari-hari menunggu penuh ketakutan akan datangnya misteri gelap sebuah kematian.

Kawan, pagi sekali hari ini hatiku menangis. Ketika aku menyaksikan seorang perempuan tua di hari tuanya. Dia yang tidak bisa baca tulis sejak lahir, diusianya yang semakin renta, dia masih harus bekerja sangat keras membanting tulang, hanya sekedar untuk bertahan hidup.

Kawan, malam tadi kembali hati ku menangis. Saat aku kembali dari kampus, aku saksikan lahi-lagi seorang perempuan tua, tertatih keluar dari rumahnya. Mencoba berjalan, tangan nya merayap tembok, kakinya tak mampu menyagga tubuhnya yang ringkih. Rupanya dia hanya ingin membeli kentang dan ikan goreng. Beruntung aku menemukanya, dan aku bisa membelikanya. Terlihat senyum dan wajahnya yang teramat dalam, ketika bibirnya bergetar berucap berkali-kali : “God Blesses You”.

Konon, cerita sedih di hari tua di negeri yang konon tingkat kemakmuranya tertinggi di atas bumi ini adalah cerita biasa. Semoga kita ditakdirkan memiliki hari tua yang indah. Allahumma aammiiin.


Ketika Mereka Berpesta Pora di rumah Tuhan


* Interior Pitcher and Piano Bar, Nottingam (Courtesy: http://barmagazine.co.uk/ )

Satu Sabtu sore  di akhir musim semi menjelang musim panas itu, aku baru saja presentasi hasil penelitian ku, pada sebuah seminar yang kebetulan diselenggarakan di kampus ku, Universitas Nottingham. Aku tak mampu menyembunyikan luapan kebahagian ku, ketika bertemu dengan teman-teman sesama Mahasiswa PhD di bidang yang sama yang tidak saja dari kampus-kampus di Inggris, tetapi juga dari negara-negara eropa lainya seperti Belanda, Italia, German, Turki, dan sebagainya. Setelah seminar usai, tibalah saat nya bersosialisasi. Untuk saling mengenal lebih dekat secara informal dengan sesama peserta seminar.

Aku sebenarnya kurang nyaman dengan cara sosialisasi ala orang Eropa pada umumnya ini. Yah, tau kenapa mereka sosialisasinya pasti disertai dengan minum-minum minuman berakohol yang menurut aku sangat menusuk hidung. Meskipun mereka sudah menyiapkan minuman non-alkohol dan makanan Halal khusus buat yang bergama Islam seperti aku. Akhirnya hari pertama aku tidak ikut acara sosialisasi, meskipun aku sedikit merasa tidak enak karena tempat dan makan sudah di booked dan dibayar oleh panitia penyelenggara. Sore itu, adalah sosialisasi hari kedua dan terakhir untuk seminar kali ini. Seorang panitia, yang kebetulan berasal dari Kazahtan, meyakinkan aku bahwa minuman non-alkohol dan makanan halal sudah disiapkan khusus buat aku.

* Dari Luar Pitcher and Piano Bar, Nottingam (Courtesy: http://www.urbanghostsmedia.com )

Akhirnya karena dibujuk-bujuk beberapa teman baru kenal di seminar yang kebetulan aku merasa nyaman dengan mereka, akhirnya aku ikutan juga. Kami naik taksi yang sudah dibayar oleh panitia seminar. Betapa kagetnya aku, ternyata taksi itu berhenti di depan sebuah gereja Katolik Roma yang megah. Di depan gereja itu, berjubel orang sedang bersuka ria dengan gelas-gelas berisi minuman berakohol. Aku mlongo sejenak, baru sadar ternyata gereja katolik roma yang berasitektur cantik itu telah beralih fungsi menjadi sebuah Bar.

Bar itu bernama Pitcher and Piano, yang berada di tengah-tengah city centre Nottingham. Di depan pintu masuk gereja itu, ada dua orang guard berbadan kekar. Dua orang itu bertugas memeriksa ID setiap pengunjung, untuk memastikan setiap pengunjung berumur tidak kurang dari 18 tahun. Sial, beberapa dari kami termasuk aku tidak diperbolehkan masuk karena tidak membawa ID Card. Kami hanya bawa Student Card yang tidak bisa menunjukkan umur kami, karena tidak mencantumkan tanggal lahir. Seorang panitia mencoba melobi dua orang penjaga gerbang gereja, dengan meyakinkan bahwa kami ini mahasiswa PhD yang pastinya sudah berumur lebih 18 tahun, masak iya kami masih kelihatan seperti ABG? Lobi itu tidak mempan, akhirnya salah seorang panitia seminar terlihat agak emosi, karena pihak manajemen tidak memberitahu sebelumnya, kalau kita harus menunjukkan ID. Panitia pun minta dipanggilkan salah satu manager dari bar gereja itu, setelah beradu mulut cukup lama, akhirnya kami diperkenankan untuk masuk. Sore semakin merayap menjadi gelap ketika aku memasuki gereja Bar itu. Aroma alkohol yang tajam langsung menusuk-nusuk hidungku yang lagi tidak pelik.

Dentuman musik keras ala diskotik terdengar begitu keras di telinga saya. Di dalam ruang utama itu penuh dengan manusia, sedang menikmati atau mengantri Bir dan minuman berakohol lainya. Bercampur laki-laki dan perempuan sambil sesekali bergoyang-goyang mengikuti dentuman musik diskotik itu. Yang laki-laki masih berbusana wajar, yang perempuan naudzubillah sangat tidak wajar menurut saya, sangat menimalis bak pakaian para pelacur di Gang Dolly Surabaya. Hanya cahaya lampu remang-remang yang menerangi bangunan dua lantai. Kami langsung menuju lantai dua, di tempat dimana tempat itu sudah di booked jauh hari untuk kami. Sebelum duduk di kursi yang disediakan, aku sekali lagi masih nggumun . Maklum ini baru pertama kali saya masuk Bar yang benar-benar bar dan Pertama Kali masuk Gereja. Dari dulu, kalau sedang jalan-jalan dengan teman-teman  dekat ku, aku selalu berujar pengen sekali masuk gereja dan masuk Bar sekedar ingin tahu ada apa sih sebenarnya di dalamnya. Nah, sore itu secara kebetulan tidak disengaja, dua keinginan ku yang agak nyentrik itu terjadi beneran. Aku sedang menertwakan diriku sendiri.

Dari lantai dua aku melongok ke bawah dan ke atas mengamati aristektur interior gereja itu yang sangat indah. Arsitektur yang sangat rumit ala kerajaan Romawi. Di dalam gereja itu, masih terlihat jelas sisa-sisa lukisan Bunda Maria, Bayi Yesus, Yesus yang lazim ditemui dalam gereja-geraja Katolik pada umumnya. Sebuah tanda nyata, bahwa tempat ini dulunya pernah menjadi  rumah Tuhan, tempat memuja dan memuji Tuhan serta tempat berdo’a memohon kemurahan Tuhan. Nah kok, sekarang berubah menjadi Bar garis miring Diskotik. Telah diusir dimanakah Tuhan mereka itu? Setelah mata ku puas, menyapu seisi ruangan gereja, aku beranjak menuju meja yang disitu sudah tertulis nama ku. aku mendapat tempat duduk di paling ujung. Pas di depan dan di samping kiri ku kebetulan kedua nya orang Italia.

Di samping kiri saya seorang gadis Italia yang sangat jelita, yang Alhamdulilah masih berpakaian normal, kaos oblong lengan pendek warna hitam bertuliskan ” be yourself because everyone else is already taken ! ” Di depan aku seorang cowok Italia, yang saya kira orang Pakistan. Kami ngobrol begitu gayeng, dengan logat Inggris ala Italiano mereka yang terdengar cukup aneh di telingaku. Ternyata cowok di depan ku itu seorang Katolik taat, yang kebetulan juga tea total, tidak minum minuman berakohol.

So, di depan kami berdua, hanya ada dua Gelas besar berisi Jus Jeruk dan Air putih.  Sementara di depan teman kami yang lain, ada dua gelas besar berisi Wine, Anggur berakohol, merah dan putih. Kami minum, makan, ngobrol, foto-foto di tempat itu sampai berjam-jam. Sampai aku merasa kehabisan topik apalagi untuk diperbincangkan. Para pelayan hilir mudik, berpakaian serba hitam, bergerak sangat cepat, melayani permintaan kami. Kami sudah dipesankan dan dibayar oleh panitia seminar. Untuk makanan pembuka aku memilih roti dan sup vegetarian yang terasa seperti Curry India, makanan utama aku memesan ayam goreng yang rasanya sangat tidak enak, sementara makanan penutup berupa puding, rasa gula jawa. Malam semakin larut, gereja itu semakin penuh sesak oleh manusia, dentuman musik terdengar semakin keras, dan orang-orang terlihat semakin ‘gila’ karena pengaruh alkohol. Begitu selesai menghabiskan puding rasa gula jawa itu, aku mentowel seorang teman aku yang dari Thailand. Aku mengajak dia menemaniku, pulang duluan, karena aku belum sholat maghrib yang segera usai waktunya pukul 10.00 Malam. Beruntung teman saya itu mau, pastinya sangat sungkan jika aku harus pulang duluan, ngacir sendirian. Setelah pamitan kami segera ngacir dari Gereja Bar itu mencari Bus umum dan segera Pulang.

PakistanCentre
* Pakistan Centre Nottingham (Sebelumnya Gereja Katolik)

Memang bukan rahasia lagi, bahwa banyak sekali gereja-gereja di kota-kota di Eropa yang beralih fungsi menjadi Bar dan diskotik. Sebagian dibeli oleh muslim dijadikan masjid atau islamic centre. Seperti salah satu gereja Katolik di Nottingham yang telah beralih fungsi menjadi Pakistan Centre, tempat diman teman-teman Muhammadiyah se Inggris pernah mengadakan rapat kerja disini. Sebagian lagi dibiarkan menjadi gereja tua menjadi rumah laba-laba. Sebagian kecil masih berfungsi sebagai tempat ibadah sebagai mana mestinya. Memang agama tidak lagi dipahami sebagai perbuatan ritual penyembahan Tuhan di gereja-geraja oleh sebagian besar oleh masyrakat Eropa. Hanya segelintir orang saja yang masih mau pergi ke Gereja.

Buat mereka yang terpenting adalah budi baik sesama umat manusia, berdasarkan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Memang secara ritual, mereka sudah bisa dibilang tidak lagi bergama, tetapi secara kemanusiaan mereka sangat berbudi baik nan santun, menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, kesetaraan, salaing menghargai dan menghormati, saling percaya terhadap sesama. Kontras dengan di Indonesia, memang sebagian besar masyarakatknya secara ritual sangat rajin ke masjid ke gereja. Tetapi, msayrakatnya masih sering berbuat tidak adil, tidak jujur, dan korupsi?

Dalam hati kecil saya sering bertanya-tanya, Jika manusia seolah tanpa campur tangan mampu menciptakan kesejahteraan hidup? Masihkan manusia membutuhkan Tuhan? Sebagaimana terlihat orang-orang Eropa yang meninggalkan gereja mereka. Kalau begitu, Bagaimana masa depan Agama dan Tuhan? Aku pribadi rasanya sampai kapan pun tetap membutuhkan agama dan Tuhan, karena disanalah aku merasa menemukan kebahagiaan sesungguhnya, bukan kebahagian semu ciptaan manusia. Ataukah ini hanya Ilusi? Tapi rasanya tidak. Semoga Allah menjaga kenikmatan Iman dan Taqwa kita kepada Allah SWT. Allahumma Ammin.


Cahaya Islam di Langit Nottingham, Inggris

Sebagai Muslim yang terbiasa hidup sebagai di negeri muslim dengan jumlah muslim mayoritas, hidup di negara sekuler dengan jumlah muslim minoritas bisa menjadi tidak mudah, bahkan menjadi tantangan sendiri. Awalnya saya berfikir begitu, tetapi spertinya tidak begitu benar. Disini, justru saya belajar banyak bagaimaana seharusnya sebagai bagian dari mayoirtas memperlakukan kaum minoritas. Sebuah keindahan tak terkira, hidup di tengah masyarakat dimana setiap kepercayaan seseorang dijamin kebebasanya, dimana setiap orang dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda dapat hidup rukun dalam sebuah harmoni yang hangat, dimana setiap individu mendapat kesempatan yang sama tanpa diskriminasi.

01_masjid_nottingham_01
*Menara Masjid Sultania Nottingam

Siang di penghujung musim gugur itu, saya sedang menghadiri pelatihan jaga ujian. Iyah, mau jaga ujian saja wajib ikut pelatihan. Padahal ini bukan kali pertama saya akan jaga ujian, pun semester sebelumnya saya sudah mengikuti pelatihan yang sama. Mungkin inilah yang disebut profesionalitas dalam bekerja. Di sesi tanya jawab, ada seorang peserta pelatihan yang bertanya: ” Jika ada peserta ujian yang memakai cadar, apakah saya harus memeriksa wajahnya?” Pemateri, yang bule perempuan british itu dengan sangat tegas menjawab: ” NO!, anda sama sekali tidak berhak melakukan itu !” Peserta kembali bertanya: “Bagimana kita bisa tahu, kalau dia bukan orang lain? Penjaga ujian yang perempuan, bisa memeriksanya di ruang tertutup?” Pemateri : “Sekali lagi, TIDAK!. Di kampus ini setiap kepecercayaan keagamaan dihargai dan harus dihormati titik”.

01_masjid_nottingham_02
*Masjid dan Pusat Pendidikan Islam Sultania Nottingam

Saya kembali teringat kejadian ini, ketika kemaren waktu liburan di Indonesia sempat menonton film 99 Cahaya di Langit Eropa. Di film yang oleh beberapa kritikus film, ceritanya menggunakan nalar kalah, diceritakan bagaimana susahnya menjadi seorang Muslim di Eropa. Digambarkan banyak orang yang ‘menghina’ dan tidak memahami Islam. Secara pribadi, saya kurang sependapat dengan cerita di film yang katanya berdasarkan novel yang ditulis berdasarkan kisah nyata. Di Inggris, justru saya menemukan pengalaman yang sebaliknya.

Saya bertemu dengan orang-orang yang sangat memahami saya sebagai seorang Muslim. Termasuk dosen pembimbing riset saya, yang sangat paham kalau setiap jumat siang saya harus sholat Jumat dan di Musim Summer saya harus berpuasa lebih dari 15 jam. Kebijakan kampus pun demikian, bahkan jika seorang mahasiswa mendapatkan jadwal ujian yang berbenturan dengan pelaksanaan ritual keagamaan, dia dijamin oleh peraturan akademik untuk bisa mendapatkan jadwal ujian yang lain. Setiap acara formal dinner juga misalnya, mereka jauh-jauh hari sebelumnya mengirim email dietary requirement, dimana kita bisa memilih menu Non-Alcoholic Drink, Halal, atau Vegetarian. Jangan khawatir mereka mengira Halal itu bukan sekedar daging babi, tetapi mereka paham bahwa Halal itu juga harus disembelih secara Islam.

Fasilitas Ibadah di Dalam Kampus

Memahami bahwa muslim diwajibkan sholat 5 kali sehari, Universitas memberikan fasilitas khusus untuk sholat yang sangat memadai. Jangan bayangkan di tempat sempit nan pengap sebagaimana mall-mall di Indoneisa. Mushola berada di bangunan utama kampus. Kampus Nottingham yang terdiri dari beberapa kampus, disetiap kampus pun disediakan Mushola. Di University Park, Dua Mushola yang dibedakan untuk brothers sama sisters, berada di lantai 2 gedung Portlad Building, yang merupakan pusat kegiatan mahasiswa.

03_PrayerRoom
* Portland Building, tempat Prayer Room Berada

Di Mushola-mushola ini, disediakan toilet khusus yang menggunakan air, tidak seperti toilet pada umumnya yang hanya menggunakan tisu. Tidak hanya toilet khusus, tetapi juga disediakan tempat wudlu yang dirancang secara khusus juga. Di dalam mushola juga dilengkapi dengan perpustakaan.

03_EidlFitri
* Sholat Ied di Sport Centre, Universitas Nottingham

Fasilitas mushola dengan kondisi yang hampir sama juga disediakan di kampus Jubilee (Lantai 2, Amenities Building), di kampus QMC, dan kampus Suton Bonington.

03_PrayerRoom_2
* Sebagian Mahasiswa Muslim Indonesia di Prayer Room

Mushola-mushola ini juga dijadikan tempat pelaksanaan sholat Jumat. Untuk sholat Ied, karena kapasitas mushola yang terbatas, Pihak kampus kampus menyediakan Sport Centre Indoor sebagai tempat pelaksanaan sholat ied. Tidak hanya mahasiswa Universitas Nottingham, tetapi juga masyarakat muslim di sekitar kampus ikut juga melaksanakan sholat ied disini.

01_masjid_nottingham_05
* Perpustakaan di Prayer Room, University Park.

Masjid di Luar Kampus

Di luar kampus banyak sekali masjid sebenarnya. Tetapi kebanyakan bukan bangunan yang dari awal dibangun untuk masjid, tetapi rumah biasa yang dialihfungsikan menjadi Masjid. Sehingga tanpa kubah dan tidak terlihat seperti masjid. Bahkan di dekat bioskop, savoy cinema, ada sebuah masjid kecil. Di dekat rumah tempat saya tinggal, Alhamdulilah kebetulan ada dua masjid, jarak 100 meter ada masjid Noor, dan jarak 200 meter ad masjid Umar. Sungguh sebuah kebahagian tersendiri, meskipun di negeri non-muslim, kita masih bisa mendengarkan Adzan 5 kali sehari dan sholat jamaah di masjid, bertemu saudara-saudara sesama muslim.

01_masjid_nottingham_03
* Masjid Islamic Centre, Nottingham

Untuk bangunan yang benar-benar masjid, di sekitar city centre ada dua masjid besar yang tentu saja ada kubah dan menaranya. Yang pertama adalah Masjid Islamic Centre di Curzon Street. Masjid nya sangat besar, tapi sayang sholat jumatnya menggunakan Bahasa Urdu (Bahasa Pakistan). Masjid ini bersebelahan dengan sebuah gereja, dan tempat perjudian Bingo. Saya biasa ngadem (kalau musim panas) dan ngangetin (kalau musim dingin) badan dan hati di masjid ini jika sedang di city centre. Jika malas jalan, dari Victoria Centre anda bisa naik Bus Nomor 40, 41, 42, atau S11.

01_masjid_nottingham_04
* Masjid Islamic Centre di Curzon Street, Nottingham

Masjid yang kedua adalah Masjid jamik dan Pusat Pendidikan Islam Sultania. Masjid ini baru saja diresmikan di Nottingham. Sebagai masjid baru yang dibangun from scratch. Masjid ini dari city centre bila malas jalan kaki bisa ditempuh dengan Bus Nomer 43 dari Victoria Centre, Jantung kota Nottingham. Ohya, lokasi masjid ini terletak satu jalur bus dan tidak jauh dari George Green Wind Mill and Learning Centre, tempat anda bisa melihat kincir Angin di kota Nottingham.

Makanan Halal

Mencari makanan yang benar-benar halal bisa menjadi masalah sendiri jika anda berada di negara Non-Muslim. Tetapi sepertinya tidak berlaku di Nottingham. Di kota ini restoran halal yang menjual kebab, ayam goreng, pizza halal sangat mudah dijumpai. Sebagian besar menawarkan free delivery order.  Hampir di setiap titik kota sangat mudah mendapatkan restoran halal ini. Pusat restoran halal dimana anda bisa menemukan berderet-deret, berjibun restoran halal di antaranya di daerah canning circus, mansfield road, dan di dearah Hyson Green.

02_halal_food_01
* Salah satu Toko Daging Halal di Nottingham

Untuk daging sapi, kambing, ayam mentah halal di Nottingham juga banyak sekali tersedia. Daerah terbesara pusat daging halal adalah di Hyson Green, disini anda bisa menemukan berderet-deret toko daging halal. Bahkan jika anda di kawasan Hyson Green ini anda akan beras seperti berada di wilayah Sunan Ampel Surabaya. Nama toko-tokonya hampir semuanya bernama Islam. Tempat langganan saya adalah Sharif & Son, dan Medina. Karena banyaknya toko daging halal, harganya pun sangat murah. Apalagi kalau mau beli jeroan, ampela ati, sayap ayam, atau buntut sapi. Apalagi daging yang dijual Masih Fresh. Di kawasan Beeston, ada satu-satunya toko daging halal namanya Iqro’ tempatnya bersebelahan dengan toko fresh Asia, dimana kita bisa menemukan saos, kecap, dan indomie ASLI 100% made in Indonesia. Jika anda malas pergi ke toko daging halal ini, anda juga bisa menemukan daging halal frozen di beberapa supermarket seperti Tesco dan Asda. Bahkan di Asda ada outlet khusus yang khusus menjual daging/ayam Halal. Jadi, berada di kota ini anda tidak perlu khawatir perut anda kemasukan makanan tidak halal :D.

Komunitas Dakwah

Jika anda terpanggil untuk ikut berjuang memperkenalkan Islam anda bisa bergabung dengan beberapa organisasi keislaman ataupun pengajian Informal. Di kampus, ada Islamic Society, yang merupakan salah satu organisasi kemahasiswaan terbesar di Universitas Nottingham. Di organisasi ini, anda bisa bertemu dengan saudara-saudara muslim dari berbagai penjuru dunia untuk bersama-sama memperkenalkan Islam yang ramah, toleran dan santun. Setiap tahun nya mengadakan acara rutin bertema Islamic Discovery Week, yang mencoba memperkenalkan Islam secara santun ke orang-orang non muslim di kampus, dan yang paling saya suka setiap bulan Ramadlan mengadakan Buka Bersama GRATIS selama sebulan penuh (menghemat uang saku banget :D ).

03_Pengajian_Nottingham
* Mas-mas pengajian PEDLN

Teman-teman muslim Indonesia, baik mahasiswa, maupun yang sudah lama bekerja dan menetap di Nottingham dan sekitarnya setiap bulan juga mengadakan Pengajian. Komunitasnya bernama, PEDLN (Pengajian Derby, Loughborough, dan Nottingham). Terbuka untuk muslim, muslimah dan Anak-anak. Diselenggarakan TPA juga buat anak-anak. Lokasinya biasanya di Mushola di Sutton Bonington kampus. Di komunitas pengajian ini, selain bisa meet and greet saudara sebangsa setanah air, seiman, anda bisa merasakan masakan Asli Indonesia bikinan ibu-ibu pengajian yang tentunya mantap sangat. Sampean yang biasa dakwah di pengajian Tarbiyah ala PKS, Hizbut Tahrir, atau Jamaah Tabligh, juga ada di Nottingham. Saya bahkan pernah mengadakan acara Tahlilan dan Kendurenan bersama-sama teman NU di Nottingham.

Intinya, selama berada di Inggris, di Nottingham khususnya. Saya belum pernah mengalami, atau mendengar cerita diskriminasi atau tindakan kurang mengenakkan hanya karena saya Muslim. Justru sebaliknya, saya merasa sangat dihormati dan Nottingham sangat welcome dengan Muslim. Tidak ada ceritanya kos-kosan yang ada embel-embel nya: “Menerima kos-kosan khusus Kristen”.  Sebagaimana banyak saya temui waktu masih jadi mahasiswa di ITS, sebagian besar kos-kosan ada embel-embelnya : “Menerima kos-kosan, Khusus Muslim”. Bahkan ada perumahan, do sebuah kota di Indoneisa yang mengeksklusifkan diri khusus Muslim.

Di negara ini saya belajar banyak bagaimana Agama mayoritas bersikap terhadap agama minoritas. Agama mayoritas seharusnya tidak takut dengan berkembangnya agama minoritas. Sebaliknya di Indonesia, banyak sebagian umat Islam yang mayoritas, bertindak seperti agama minoritas. Ada prasangka buruk, dan ketakutan yang berlebihan akan berkembangnya agama minoritas. Bahkan disertai dengan kekerasan untuk menghujat aliran kepercayaan yang kebetulan berbeda dengan kepercayaan mayoritas, seperti perlakuan terhadap jamaah syiah dan ahmadiyah. Bahwa kita yakin seyakin-yakin nya dengan apa yang kita imani adalah perbuatan terpuji, akan tetepi memaksakan orang lain untuk mempercayai apa yang kita percayai adalah sesuatu yang sangat absurd. Alangkah indahnya, hidup di tengah masyarakat dimana setiap kepercayaan seseorang dijamin kebebasanya, dimana setiap orang dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda dapat hidup rukun dalam sebuah harmoni yang hangat, dimana setiap individu mendapat kesempatan yang sama tanpa diskriminasi.

 


Negeri yang Ramah untuk Penyandang Cacat, Lansia, dan Anak Kecil

“…  Manusia adalah Manusia. Kita sama, dilahirkan di dunia bukan karena kehendak kita sendiri, tapi kehendak Dia yang memberi hidup. Sudah seharusnya, kita memperlakukan manusia sama, tanpa membedakan tampilan atau bahkan kekurangan secara fisik. Manusia bisa berpura-pura. Tetapi Tuhan melihat hati kita, bukan tampilan luar kita bukan? ” – Random Thought

disable_turun_bus

*)Seorang Difable Turun dari Bus Umum

Pagi itu saya sedang duduk di sebuah halte Bus bersama seorang kawan, habis belanja di sebuah supermarket yang khusus menjual makanan dan bahan makanan asia terbesar di kota Nottingham. Kami tidak sedang menunggu bus, tetapi sekedar melepas lelah dan mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan jalan kaki ke rumah. Selang beberapa menit, ada sebuah bus berhenti hendak menurunkan penumpang. Tidak seperti biasanya, sopir bus itu turun dan mematikan mesin bus. Kemudian dia menarik lidah pintu bus dan meletakkan di bibir trotoar jalan. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki paruh baya dengan kursi roda turun dari Bus. Dia nampak sangat bahagia, sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih dan menyalami sang sopir. Setelah lelaki berkursi roda itu turun, baru sang sopir mempersilahkan beberapa calon penumpang naik bus.

Sungguh, sebuah pemandangan kemanusiaan yang sangat indah bukan? bagaimana seorang manusia yang kebetulan menjalani takdir hidupnya sebagai orang cacat diperlakukan dengan sangat manusiawi. Setiap manusia berhati nurani, tentunya mengiyakan begitulah seharusnya kita memperlakukan sesama manusia. Kita manusia memiliki hak untuk diperlukan sama.

disable
*)Seorang Difable Naik Kereta Api

Di negeri Inggris inilah saya belajar banyak tentang kemanusian. Bukan dalam teori tanpa arti, tetapi bagaimana prinsip-prinsip kemanusiaan dihargai dan diterapkan. Bagaimana manusia seharusnya memanusiakan manusia. Pemandangan kemanusiaan di atas bukan sekali dua kali saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri, tetapi berkali-kali. Diantara banyak hal yang saya belajar tentang kemanusiaaan adalah tentang bagaimana mereka memperlakukan orang cacat, lansia dan anak kecil.

disable_naikmobil
*)Penyandang Difable Naik Mobil Carteran

Di pelayanan akses public transport misalnya. Sudah menjadi standar wajib, bahwa semua public transport bisa diakses oleh kaum difabel. Selain pintu masuk yang bisa diakses, di dalam bus, kereta, dan public transport lainya harus menyediakan space khusus kaum difabel ini. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau para difabel ini tinggal di Jakarta, buat orang normal saja sangat tidak ramah, apa lagi buat mereka. Saya masih ingat, bagaimana saya harus super hati-hati setiap mau naik bus way. Jika tidak, saya bisa jatuh dan terperosok ke bawah halte busway yang tinggi itu.

disabale_space
*) Space khusus Difable dalam Bus/Kereta

Demikian juga untuk akses ke gedung. Fardlu ‘ain hukumnya, gedung tersebut harus bisa diakses oleh kaum difabel. Sehingga bisa dipastikan, setiap gedung bertingkat pasti memiliki pintu akses khusus dan lift untuk para difabel ini. Tidak hanya aksesbilitas, fasilitas gedung pun harus ramah untuk penyandang difabel. Toilet salah satunya, di setiap tingkat gedung harus ada toilet yang dirancang khusus untuk difabel.

toilet_disable_people
*)Toilet Khusus Para Difable

Tempat parkir pun menyediakan space khusus buat difabel. Anda orang normal akan kena denda jika menggunakan space ini. Saya jadi ingat berita di koran beberapa waktu yang lalu. Ada seorang anggota parlemen Inggris yang mengundurkan diri, gara-gara ketahuan menggunakan space parkir khusus untuk difabel. Dia menebus rasa bersalahnya yang dalam itu dengan mengundurkan diri dari parlemen. Padahal, hal itu terpaksa dia lakukan karena space parkir di sebuah pusat perbelanjaan sudah penuh semua. Sungguh, sebuah keteladanan tentang memiliki rasa malu yang perlu ditiru bukan?

disable_parking_space
*)Parking Space khusus buat difable

Bagaimana dengan anggota DPR di Indonesia? Rasanya belum pernah mendengar, ada anggota DPR yang mengundurkan diri karena merasa bersalah dengan rakyat. Padahal, mereka punya dosa besar sama rakyat.


*) Parking space khusus Difable

Di lingkungan akademik demikian juga, untuk menjamin aksesbilitas yang sama, kampus menyediakan pelayanan khusus buat para difabel. Ruang kuliah misalnya, harus dilengkapi dengan alat bantu dengar. Demikian juga untuk yang cacat mata dan wicara, dan cacat tidak bisa menulis, kampus memberikan pelayanan khusus dengan memberikan asisten khusus yang bisa membantu note taking atau membacakan buku bacaan. 

disable_tunarungu
*) Alat Bantu Pendengaran di Bangku Kuliah

Tidak hanya yang cacat fisik. Yang cacat mental pun mendapatkan perlakuan khusus. Seperti kelainan dyslexia yang sangat populer di Inggris. Untuk ujian pun mereka diperlakukan khusus. Saya pernah menjaga ujian untuk orang-orang berkebutuhan khusus ini. Umumnya, mereka diberi waktu yang lebih lama dari mahasiswa normal. Setiap satu jam mereka diberi waktu untuk istirahat selama 15 menit. Ternyata ada diantara mereka yang ternyata memang harus jalan muter-muter setiap satu jam sekali. Mereka memiliki kesulitan untuk belajar, seperti tidak bisa berkonsentrasi lama, kesulitan membaca dan sebagainya. Setelah ujian selesai, buku jawaban mereka dikasih stiker khusus yang isinya memberi tahu ke dosen yang ngajar agar tidak memberi penalti jika ada kesalahan dalam susunan bahasa.

disable_parking
*)parking space untuk Orangtua dengan Anak Kecil

Negeri Inggris ini tidak hanya ramah kepada kaum difabel, tetapi juga ramah buat orang lansia dan anak-anak. Untuk kaum lansia, di tempat-tempat umum biasanya disediakan skuter elektrik yang bisa mereka naiki secara gratis. Demikian juga untuk anak-anak, Seperti trolly belanja di bawah ini, yang di desain khusus buat mereka yang belanja bersama anak kecil.

disable_keranjangbelanjaanak
*)Keranjang Belanja untuk Orang tua dan Anak

Indah, sungguh indah memang jika kita bisa memanusiakan manusia. Siapa sih yang ingin dilahirkan dalam kondisi cacat atau karena sesuatu hal yang membuat kita cacat? Semua tentu bukan kehendak kita bukan? Tuhan punya alasan di balik itu. Bersyukurlah kita yang dilahirkan secara normal. Dan sebagai orang normal sudah seharusnya kita memperlakukan mereka yang berkebutuhan khusus tanpa diskriminasi. Mereka harus kita bantu mendapatkan aksesbilitas yang sama dengan kita.

Di Indonesia, seharusnya sudah ada undang-undang yang melindungi hak-hak aksesbilitas kaum difabel ini. Tapi entahlah, apa saja yang dilakukan anggota DPR itu? Ketika mereka menghabiskan duit rakyat untuk studi banding ke Inggris, apakah mereka tidak melihat bagaimana Inggris memperlakukan orang difabel ini? Itu yang seharusnya mereka pelajari. Entahlah, mungkin hati nurani mereka sedang tertutup awan. Sebagai rakyat jelata, saya hanya bisa berdoa, semoga saja, sahabat-sahabat saya yang kebetulan ditakdirkan berkebutuhan khusus, segera mendapatkan fasilitas dan diperlakukan seperti para difabel di Inggris ini. Semoga saja !


berjalan pun sambil membaca buku

….. orang yang bisa membaca tetapi tidak membaca buku, tidak ada bedanya dengan orang yang tidak bisa membaca.

Hari ini langit di atas bumi Nottingham terlihat mendung. Tetapi tak semendung hati dan semangat ku. Pukul 07.00 pagi, setelah sholat duha, berdoa memohon limpahan ilmu dan rizki yang banyak dan barokah ke yang Maha Memiliki Ilmu dan Pemberi rejeki, seperti biasa aku berjalan menyusuri jalanan kecil di tepi sungai dari rumah menuju ke Lab. di Jubilee Campus, Universitas Nottingham. Entah sudah berapa kali aku menyusuri jalanan ini, mungkin sudah empat ratus kali, atau bahkan lebih. hampir setiap hari dua kali aku menyusurinya, pergi dan pulang ke kampus, tempat ‘kawah candradimuka’ ku itu berada. Jalan ini, suatu saat nanti pasti akan sangat aku rindukan. Saksi bisu yang merekam setiap langkah kaki ku pergi dan pulang mengaji ilmu di kota Nottingham ini.

Di jalan itu, setiap hari selalu ku temukan pelajaran hidup yang berbeda. Perjalanan berharga dari orang-orang yang berbeda yang berjalan dan bersepeda  menyusuri jalan itu. Seperti hari ini aku berpapasan dengan orang yang membaca sambil berjalan cepat. Sudah berjalan nya setengah berlari, sebagaimana gaya berjalan orang Inggris pada umumnya, masih sempatnya membaca buku.  Aku saja, di perpustakaan langsung tertidur setelah kurang dari satu jam membaca buku. Adalah pemandangan biasa, di public transport seperti kereta dan bus di Inggris ini, orang-orang pada terdiam sendiri, asyik dengan buku bacaanya masing-masing. Memang sih terkadang kesan nya mereka cuek dan tidak ramah. Tetapi, harus aku akui terkadang buku lebih enak diajak ngobrol daripada manusia.

Dalam keadaan berdiri di dalam kereta api yang sesak pun, mereka masih sempat membaca. Memang budaya membaca orang Inggris ini sangat  pantas untuk dikagumi. Mungkin berawal dari budaya membaca inilah, mereka mampu menciptakan masyarakat yang terdidik, santun, dan saling menghargai manusia lainya. Yah, membaca adalah salah satu cara tuhan memberikan ilmu kepada hamba nya. Namun budaya membaca memang tidak datang begitu saja, semuanya perlu dibiasakan bukan? salah satu cara aku memotivasi diriku untuk membaca adalah dengan kesadaran bahwa: orang yang bisa membaca tetapi tidak membaca buku, tidak ada bedanya dengan orang yang tidak bisa membaca.

Kita tidak perlu mencari seribu alasan, kenapa mereka rajin membaca sementara kita tidak. Sebenarnya, kalau kita mau jujur bukan karena keadaan seperti ketersediaan buku bacaan yang terbatas yang membuat kita malas membaca. Buktinya, perpustakaan kita pun sepi. Tetapi mari kita menyalahkan diri kita sendiri yang memang pada dasarnya malas untuk membaca. Mulai sekarang, mari kita berjanji pada diri kita sendiri untuk rajin membaca. Jika sehari sebelum tidur kita membiasakan membaca 1 halaman saja, sudah 365 halaman yang kita baca dalam setahun. Membaca adalah salah satu  ikhtiar kita untuk mencari ilmu. Mencari ilmu adalah wajib hukumnya bagi yang berakal sehat, dari sejak kita lahir hingga kita terkubur di alam barzah. Bahkan, Pak Modin pun masih mengajari kita menjawab pertanyaan malaikat saat tubuh kita  telah terbungkus kain kafan (baca: talqin mayit). Semoga Tuhan selalu  menganugerahkan ilmu yang bermanfaat buat kita semua. Allahumma Ammiin.

Sudah berapa halaman anda membaca buku hari ini?

Sumber

Gambar Ilustrasi grabbed from : http://24.media.tumblr.com/c083124dab1e5137c0d08a578284afcd/tumblr_mezimv7jXh1qzhokmo1_500.jpg


Arfiandhani

A Snapshot

Fathul Wahid

Just another humble person

Sketsa Umar Kayam

Mangan Ora Mangan Kumpul

Langsung Kunjungi DZOFAR.COM Saja Ya!!

Abaikan Blog ini Kakak. Blog saya DZOFAR.COM yah.. Terimakasih..

duniadev

satu kisah biasa

Tulisan-ku

collection_of_my_stories_,_thoughts_,_imaginations_,_etc

Agustri Weblog

Mari Bercerita,

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,387 other followers