Category Archives: Budaya Hidup orang UK

Ketika Mereka Berpesta Pora di rumah Tuhan


* Interior Pitcher and Piano Bar, Nottingam (Courtesy: http://barmagazine.co.uk/ )

Satu Sabtu sore  di akhir musim semi menjelang musim panas itu, aku baru saja presentasi hasil penelitian ku, pada sebuah seminar yang kebetulan diselenggarakan di kampus ku, Universitas Nottingham. Aku tak mampu menyembunyikan luapan kebahagian ku, ketika bertemu dengan teman-teman sesama Mahasiswa PhD di bidang yang sama yang tidak saja dari kampus-kampus di Inggris, tetapi juga dari negara-negara eropa lainya seperti Belanda, Italia, German, Turki, dan sebagainya. Setelah seminar usai, tibalah saat nya bersosialisasi. Untuk saling mengenal lebih dekat secara informal dengan sesama peserta seminar.

Aku sebenarnya kurang nyaman dengan cara sosialisasi ala orang Eropa pada umumnya ini. Yah, tau kenapa mereka sosialisasinya pasti disertai dengan minum-minum minuman berakohol yang menurut aku sangat menusuk hidung. Meskipun mereka sudah menyiapkan minuman non-alkohol dan makanan Halal khusus buat yang bergama Islam seperti aku. Akhirnya hari pertama aku tidak ikut acara sosialisasi, meskipun aku sedikit merasa tidak enak karena tempat dan makan sudah di booked dan dibayar oleh panitia penyelenggara. Sore itu, adalah sosialisasi hari kedua dan terakhir untuk seminar kali ini. Seorang panitia, yang kebetulan berasal dari Kazahtan, meyakinkan aku bahwa minuman non-alkohol dan makanan halal sudah disiapkan khusus buat aku.

* Dari Luar Pitcher and Piano Bar, Nottingam (Courtesy: http://www.urbanghostsmedia.com )

Akhirnya karena dibujuk-bujuk beberapa teman baru kenal di seminar yang kebetulan aku merasa nyaman dengan mereka, akhirnya aku ikutan juga. Kami naik taksi yang sudah dibayar oleh panitia seminar. Betapa kagetnya aku, ternyata taksi itu berhenti di depan sebuah gereja Katolik Roma yang megah. Di depan gereja itu, berjubel orang sedang bersuka ria dengan gelas-gelas berisi minuman berakohol. Aku mlongo sejenak, baru sadar ternyata gereja katolik roma yang berasitektur cantik itu telah beralih fungsi menjadi sebuah Bar.

Bar itu bernama Pitcher and Piano, yang berada di tengah-tengah city centre Nottingham. Di depan pintu masuk gereja itu, ada dua orang guard berbadan kekar. Dua orang itu bertugas memeriksa ID setiap pengunjung, untuk memastikan setiap pengunjung berumur tidak kurang dari 18 tahun. Sial, beberapa dari kami termasuk aku tidak diperbolehkan masuk karena tidak membawa ID Card. Kami hanya bawa Student Card yang tidak bisa menunjukkan umur kami, karena tidak mencantumkan tanggal lahir. Seorang panitia mencoba melobi dua orang penjaga gerbang gereja, dengan meyakinkan bahwa kami ini mahasiswa PhD yang pastinya sudah berumur lebih 18 tahun, masak iya kami masih kelihatan seperti ABG? Lobi itu tidak mempan, akhirnya salah seorang panitia seminar terlihat agak emosi, karena pihak manajemen tidak memberitahu sebelumnya, kalau kita harus menunjukkan ID. Panitia pun minta dipanggilkan salah satu manager dari bar gereja itu, setelah beradu mulut cukup lama, akhirnya kami diperkenankan untuk masuk. Sore semakin merayap menjadi gelap ketika aku memasuki gereja Bar itu. Aroma alkohol yang tajam langsung menusuk-nusuk hidungku yang lagi tidak pelik.

Dentuman musik keras ala diskotik terdengar begitu keras di telinga saya. Di dalam ruang utama itu penuh dengan manusia, sedang menikmati atau mengantri Bir dan minuman berakohol lainya. Bercampur laki-laki dan perempuan sambil sesekali bergoyang-goyang mengikuti dentuman musik diskotik itu. Yang laki-laki masih berbusana wajar, yang perempuan naudzubillah sangat tidak wajar menurut saya, sangat menimalis bak pakaian para pelacur di Gang Dolly Surabaya. Hanya cahaya lampu remang-remang yang menerangi bangunan dua lantai. Kami langsung menuju lantai dua, di tempat dimana tempat itu sudah di booked jauh hari untuk kami. Sebelum duduk di kursi yang disediakan, aku sekali lagi masih nggumun . Maklum ini baru pertama kali saya masuk Bar yang benar-benar bar dan Pertama Kali masuk Gereja. Dari dulu, kalau sedang jalan-jalan dengan teman-teman  dekat ku, aku selalu berujar pengen sekali masuk gereja dan masuk Bar sekedar ingin tahu ada apa sih sebenarnya di dalamnya. Nah, sore itu secara kebetulan tidak disengaja, dua keinginan ku yang agak nyentrik itu terjadi beneran. Aku sedang menertwakan diriku sendiri.

Dari lantai dua aku melongok ke bawah dan ke atas mengamati aristektur interior gereja itu yang sangat indah. Arsitektur yang sangat rumit ala kerajaan Romawi. Di dalam gereja itu, masih terlihat jelas sisa-sisa lukisan Bunda Maria, Bayi Yesus, Yesus yang lazim ditemui dalam gereja-geraja Katolik pada umumnya. Sebuah tanda nyata, bahwa tempat ini dulunya pernah menjadi  rumah Tuhan, tempat memuja dan memuji Tuhan serta tempat berdo’a memohon kemurahan Tuhan. Nah kok, sekarang berubah menjadi Bar garis miring Diskotik. Telah diusir dimanakah Tuhan mereka itu? Setelah mata ku puas, menyapu seisi ruangan gereja, aku beranjak menuju meja yang disitu sudah tertulis nama ku. aku mendapat tempat duduk di paling ujung. Pas di depan dan di samping kiri ku kebetulan kedua nya orang Italia.

Di samping kiri saya seorang gadis Italia yang sangat jelita, yang Alhamdulilah masih berpakaian normal, kaos oblong lengan pendek warna hitam bertuliskan ” be yourself because everyone else is already taken ! ” Di depan aku seorang cowok Italia, yang saya kira orang Pakistan. Kami ngobrol begitu gayeng, dengan logat Inggris ala Italiano mereka yang terdengar cukup aneh di telingaku. Ternyata cowok di depan ku itu seorang Katolik taat, yang kebetulan juga tea total, tidak minum minuman berakohol.

So, di depan kami berdua, hanya ada dua Gelas besar berisi Jus Jeruk dan Air putih.  Sementara di depan teman kami yang lain, ada dua gelas besar berisi Wine, Anggur berakohol, merah dan putih. Kami minum, makan, ngobrol, foto-foto di tempat itu sampai berjam-jam. Sampai aku merasa kehabisan topik apalagi untuk diperbincangkan. Para pelayan hilir mudik, berpakaian serba hitam, bergerak sangat cepat, melayani permintaan kami. Kami sudah dipesankan dan dibayar oleh panitia seminar. Untuk makanan pembuka aku memilih roti dan sup vegetarian yang terasa seperti Curry India, makanan utama aku memesan ayam goreng yang rasanya sangat tidak enak, sementara makanan penutup berupa puding, rasa gula jawa. Malam semakin larut, gereja itu semakin penuh sesak oleh manusia, dentuman musik terdengar semakin keras, dan orang-orang terlihat semakin ‘gila’ karena pengaruh alkohol. Begitu selesai menghabiskan puding rasa gula jawa itu, aku mentowel seorang teman aku yang dari Thailand. Aku mengajak dia menemaniku, pulang duluan, karena aku belum sholat maghrib yang segera usai waktunya pukul 10.00 Malam. Beruntung teman saya itu mau, pastinya sangat sungkan jika aku harus pulang duluan, ngacir sendirian. Setelah pamitan kami segera ngacir dari Gereja Bar itu mencari Bus umum dan segera Pulang.

PakistanCentre
* Pakistan Centre Nottingham (Sebelumnya Gereja Katolik)

Memang bukan rahasia lagi, bahwa banyak sekali gereja-gereja di kota-kota di Eropa yang beralih fungsi menjadi Bar dan diskotik. Sebagian dibeli oleh muslim dijadikan masjid atau islamic centre. Seperti salah satu gereja Katolik di Nottingham yang telah beralih fungsi menjadi Pakistan Centre, tempat diman teman-teman Muhammadiyah se Inggris pernah mengadakan rapat kerja disini. Sebagian lagi dibiarkan menjadi gereja tua menjadi rumah laba-laba. Sebagian kecil masih berfungsi sebagai tempat ibadah sebagai mana mestinya. Memang agama tidak lagi dipahami sebagai perbuatan ritual penyembahan Tuhan di gereja-geraja oleh sebagian besar oleh masyrakat Eropa. Hanya segelintir orang saja yang masih mau pergi ke Gereja.

Buat mereka yang terpenting adalah budi baik sesama umat manusia, berdasarkan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Memang secara ritual, mereka sudah bisa dibilang tidak lagi bergama, tetapi secara kemanusiaan mereka sangat berbudi baik nan santun, menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, kesetaraan, salaing menghargai dan menghormati, saling percaya terhadap sesama. Kontras dengan di Indonesia, memang sebagian besar masyarakatknya secara ritual sangat rajin ke masjid ke gereja. Tetapi, msayrakatnya masih sering berbuat tidak adil, tidak jujur, dan korupsi?

Dalam hati kecil saya sering bertanya-tanya, Jika manusia seolah tanpa campur tangan mampu menciptakan kesejahteraan hidup? Masihkan manusia membutuhkan Tuhan? Sebagaimana terlihat orang-orang Eropa yang meninggalkan gereja mereka. Kalau begitu, Bagaimana masa depan Agama dan Tuhan? Aku pribadi rasanya sampai kapan pun tetap membutuhkan agama dan Tuhan, karena disanalah aku merasa menemukan kebahagiaan sesungguhnya, bukan kebahagian semu ciptaan manusia. Ataukah ini hanya Ilusi? Tapi rasanya tidak. Semoga Allah menjaga kenikmatan Iman dan Taqwa kita kepada Allah SWT. Allahumma Ammin.


Cahaya Islam di Langit Nottingham, Inggris

Sebagai Muslim yang terbiasa hidup sebagai di negeri muslim dengan jumlah muslim mayoritas, hidup di negara sekuler dengan jumlah muslim minoritas bisa menjadi tidak mudah, bahkan menjadi tantangan sendiri. Awalnya saya berfikir begitu, tetapi spertinya tidak begitu benar. Disini, justru saya belajar banyak bagaimaana seharusnya sebagai bagian dari mayoirtas memperlakukan kaum minoritas. Sebuah keindahan tak terkira, hidup di tengah masyarakat dimana setiap kepercayaan seseorang dijamin kebebasanya, dimana setiap orang dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda dapat hidup rukun dalam sebuah harmoni yang hangat, dimana setiap individu mendapat kesempatan yang sama tanpa diskriminasi.

01_masjid_nottingham_01
*Menara Masjid Sultania Nottingam

Siang di penghujung musim gugur itu, saya sedang menghadiri pelatihan jaga ujian. Iyah, mau jaga ujian saja wajib ikut pelatihan. Padahal ini bukan kali pertama saya akan jaga ujian, pun semester sebelumnya saya sudah mengikuti pelatihan yang sama. Mungkin inilah yang disebut profesionalitas dalam bekerja. Di sesi tanya jawab, ada seorang peserta pelatihan yang bertanya: ” Jika ada peserta ujian yang memakai cadar, apakah saya harus memeriksa wajahnya?” Pemateri, yang bule perempuan british itu dengan sangat tegas menjawab: ” NO!, anda sama sekali tidak berhak melakukan itu !” Peserta kembali bertanya: “Bagimana kita bisa tahu, kalau dia bukan orang lain? Penjaga ujian yang perempuan, bisa memeriksanya di ruang tertutup?” Pemateri : “Sekali lagi, TIDAK!. Di kampus ini setiap kepecercayaan keagamaan dihargai dan harus dihormati titik”.

01_masjid_nottingham_02
*Masjid dan Pusat Pendidikan Islam Sultania Nottingam

Saya kembali teringat kejadian ini, ketika kemaren waktu liburan di Indonesia sempat menonton film 99 Cahaya di Langit Eropa. Di film yang oleh beberapa kritikus film, ceritanya menggunakan nalar kalah, diceritakan bagaimana susahnya menjadi seorang Muslim di Eropa. Digambarkan banyak orang yang ‘menghina’ dan tidak memahami Islam. Secara pribadi, saya kurang sependapat dengan cerita di film yang katanya berdasarkan novel yang ditulis berdasarkan kisah nyata. Di Inggris, justru saya menemukan pengalaman yang sebaliknya.

Saya bertemu dengan orang-orang yang sangat memahami saya sebagai seorang Muslim. Termasuk dosen pembimbing riset saya, yang sangat paham kalau setiap jumat siang saya harus sholat Jumat dan di Musim Summer saya harus berpuasa lebih dari 15 jam. Kebijakan kampus pun demikian, bahkan jika seorang mahasiswa mendapatkan jadwal ujian yang berbenturan dengan pelaksanaan ritual keagamaan, dia dijamin oleh peraturan akademik untuk bisa mendapatkan jadwal ujian yang lain. Setiap acara formal dinner juga misalnya, mereka jauh-jauh hari sebelumnya mengirim email dietary requirement, dimana kita bisa memilih menu Non-Alcoholic Drink, Halal, atau Vegetarian. Jangan khawatir mereka mengira Halal itu bukan sekedar daging babi, tetapi mereka paham bahwa Halal itu juga harus disembelih secara Islam.

Fasilitas Ibadah di Dalam Kampus

Memahami bahwa muslim diwajibkan sholat 5 kali sehari, Universitas memberikan fasilitas khusus untuk sholat yang sangat memadai. Jangan bayangkan di tempat sempit nan pengap sebagaimana mall-mall di Indoneisa. Mushola berada di bangunan utama kampus. Kampus Nottingham yang terdiri dari beberapa kampus, disetiap kampus pun disediakan Mushola. Di University Park, Dua Mushola yang dibedakan untuk brothers sama sisters, berada di lantai 2 gedung Portlad Building, yang merupakan pusat kegiatan mahasiswa.

03_PrayerRoom
* Portland Building, tempat Prayer Room Berada

Di Mushola-mushola ini, disediakan toilet khusus yang menggunakan air, tidak seperti toilet pada umumnya yang hanya menggunakan tisu. Tidak hanya toilet khusus, tetapi juga disediakan tempat wudlu yang dirancang secara khusus juga. Di dalam mushola juga dilengkapi dengan perpustakaan.

03_EidlFitri
* Sholat Ied di Sport Centre, Universitas Nottingham

Fasilitas mushola dengan kondisi yang hampir sama juga disediakan di kampus Jubilee (Lantai 2, Amenities Building), di kampus QMC, dan kampus Suton Bonington.

03_PrayerRoom_2
* Sebagian Mahasiswa Muslim Indonesia di Prayer Room

Mushola-mushola ini juga dijadikan tempat pelaksanaan sholat Jumat. Untuk sholat Ied, karena kapasitas mushola yang terbatas, Pihak kampus kampus menyediakan Sport Centre Indoor sebagai tempat pelaksanaan sholat ied. Tidak hanya mahasiswa Universitas Nottingham, tetapi juga masyarakat muslim di sekitar kampus ikut juga melaksanakan sholat ied disini.

01_masjid_nottingham_05
* Perpustakaan di Prayer Room, University Park.

Masjid di Luar Kampus

Di luar kampus banyak sekali masjid sebenarnya. Tetapi kebanyakan bukan bangunan yang dari awal dibangun untuk masjid, tetapi rumah biasa yang dialihfungsikan menjadi Masjid. Sehingga tanpa kubah dan tidak terlihat seperti masjid. Bahkan di dekat bioskop, savoy cinema, ada sebuah masjid kecil. Di dekat rumah tempat saya tinggal, Alhamdulilah kebetulan ada dua masjid, jarak 100 meter ada masjid Noor, dan jarak 200 meter ad masjid Umar. Sungguh sebuah kebahagian tersendiri, meskipun di negeri non-muslim, kita masih bisa mendengarkan Adzan 5 kali sehari dan sholat jamaah di masjid, bertemu saudara-saudara sesama muslim.

01_masjid_nottingham_03
* Masjid Islamic Centre, Nottingham

Untuk bangunan yang benar-benar masjid, di sekitar city centre ada dua masjid besar yang tentu saja ada kubah dan menaranya. Yang pertama adalah Masjid Islamic Centre di Curzon Street. Masjid nya sangat besar, tapi sayang sholat jumatnya menggunakan Bahasa Urdu (Bahasa Pakistan). Masjid ini bersebelahan dengan sebuah gereja, dan tempat perjudian Bingo. Saya biasa ngadem (kalau musim panas) dan ngangetin (kalau musim dingin) badan dan hati di masjid ini jika sedang di city centre. Jika malas jalan, dari Victoria Centre anda bisa naik Bus Nomor 40, 41, 42, atau S11.

01_masjid_nottingham_04
* Masjid Islamic Centre di Curzon Street, Nottingham

Masjid yang kedua adalah Masjid jamik dan Pusat Pendidikan Islam Sultania. Masjid ini baru saja diresmikan di Nottingham. Sebagai masjid baru yang dibangun from scratch. Masjid ini dari city centre bila malas jalan kaki bisa ditempuh dengan Bus Nomer 43 dari Victoria Centre, Jantung kota Nottingham. Ohya, lokasi masjid ini terletak satu jalur bus dan tidak jauh dari George Green Wind Mill and Learning Centre, tempat anda bisa melihat kincir Angin di kota Nottingham.

Makanan Halal

Mencari makanan yang benar-benar halal bisa menjadi masalah sendiri jika anda berada di negara Non-Muslim. Tetapi sepertinya tidak berlaku di Nottingham. Di kota ini restoran halal yang menjual kebab, ayam goreng, pizza halal sangat mudah dijumpai. Sebagian besar menawarkan free delivery order.  Hampir di setiap titik kota sangat mudah mendapatkan restoran halal ini. Pusat restoran halal dimana anda bisa menemukan berderet-deret, berjibun restoran halal di antaranya di daerah canning circus, mansfield road, dan di dearah Hyson Green.

02_halal_food_01
* Salah satu Toko Daging Halal di Nottingham

Untuk daging sapi, kambing, ayam mentah halal di Nottingham juga banyak sekali tersedia. Daerah terbesara pusat daging halal adalah di Hyson Green, disini anda bisa menemukan berderet-deret toko daging halal. Bahkan jika anda di kawasan Hyson Green ini anda akan beras seperti berada di wilayah Sunan Ampel Surabaya. Nama toko-tokonya hampir semuanya bernama Islam. Tempat langganan saya adalah Sharif & Son, dan Medina. Karena banyaknya toko daging halal, harganya pun sangat murah. Apalagi kalau mau beli jeroan, ampela ati, sayap ayam, atau buntut sapi. Apalagi daging yang dijual Masih Fresh. Di kawasan Beeston, ada satu-satunya toko daging halal namanya Iqro’ tempatnya bersebelahan dengan toko fresh Asia, dimana kita bisa menemukan saos, kecap, dan indomie ASLI 100% made in Indonesia. Jika anda malas pergi ke toko daging halal ini, anda juga bisa menemukan daging halal frozen di beberapa supermarket seperti Tesco dan Asda. Bahkan di Asda ada outlet khusus yang khusus menjual daging/ayam Halal. Jadi, berada di kota ini anda tidak perlu khawatir perut anda kemasukan makanan tidak halal :D.

Komunitas Dakwah

Jika anda terpanggil untuk ikut berjuang memperkenalkan Islam anda bisa bergabung dengan beberapa organisasi keislaman ataupun pengajian Informal. Di kampus, ada Islamic Society, yang merupakan salah satu organisasi kemahasiswaan terbesar di Universitas Nottingham. Di organisasi ini, anda bisa bertemu dengan saudara-saudara muslim dari berbagai penjuru dunia untuk bersama-sama memperkenalkan Islam yang ramah, toleran dan santun. Setiap tahun nya mengadakan acara rutin bertema Islamic Discovery Week, yang mencoba memperkenalkan Islam secara santun ke orang-orang non muslim di kampus, dan yang paling saya suka setiap bulan Ramadlan mengadakan Buka Bersama GRATIS selama sebulan penuh (menghemat uang saku banget :D ).

03_Pengajian_Nottingham
* Mas-mas pengajian PEDLN

Teman-teman muslim Indonesia, baik mahasiswa, maupun yang sudah lama bekerja dan menetap di Nottingham dan sekitarnya setiap bulan juga mengadakan Pengajian. Komunitasnya bernama, PEDLN (Pengajian Derby, Loughborough, dan Nottingham). Terbuka untuk muslim, muslimah dan Anak-anak. Diselenggarakan TPA juga buat anak-anak. Lokasinya biasanya di Mushola di Sutton Bonington kampus. Di komunitas pengajian ini, selain bisa meet and greet saudara sebangsa setanah air, seiman, anda bisa merasakan masakan Asli Indonesia bikinan ibu-ibu pengajian yang tentunya mantap sangat. Sampean yang biasa dakwah di pengajian Tarbiyah ala PKS, Hizbut Tahrir, atau Jamaah Tabligh, juga ada di Nottingham. Saya bahkan pernah mengadakan acara Tahlilan dan Kendurenan bersama-sama teman NU di Nottingham.

Intinya, selama berada di Inggris, di Nottingham khususnya. Saya belum pernah mengalami, atau mendengar cerita diskriminasi atau tindakan kurang mengenakkan hanya karena saya Muslim. Justru sebaliknya, saya merasa sangat dihormati dan Nottingham sangat welcome dengan Muslim. Tidak ada ceritanya kos-kosan yang ada embel-embel nya: “Menerima kos-kosan khusus Kristen”.  Sebagaimana banyak saya temui waktu masih jadi mahasiswa di ITS, sebagian besar kos-kosan ada embel-embelnya : “Menerima kos-kosan, Khusus Muslim”. Bahkan ada perumahan, do sebuah kota di Indoneisa yang mengeksklusifkan diri khusus Muslim.

Di negara ini saya belajar banyak bagaimana Agama mayoritas bersikap terhadap agama minoritas. Agama mayoritas seharusnya tidak takut dengan berkembangnya agama minoritas. Sebaliknya di Indonesia, banyak sebagian umat Islam yang mayoritas, bertindak seperti agama minoritas. Ada prasangka buruk, dan ketakutan yang berlebihan akan berkembangnya agama minoritas. Bahkan disertai dengan kekerasan untuk menghujat aliran kepercayaan yang kebetulan berbeda dengan kepercayaan mayoritas, seperti perlakuan terhadap jamaah syiah dan ahmadiyah. Bahwa kita yakin seyakin-yakin nya dengan apa yang kita imani adalah perbuatan terpuji, akan tetepi memaksakan orang lain untuk mempercayai apa yang kita percayai adalah sesuatu yang sangat absurd. Alangkah indahnya, hidup di tengah masyarakat dimana setiap kepercayaan seseorang dijamin kebebasanya, dimana setiap orang dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda dapat hidup rukun dalam sebuah harmoni yang hangat, dimana setiap individu mendapat kesempatan yang sama tanpa diskriminasi.

 


Negeri yang Ramah untuk Penyandang Cacat, Lansia, dan Anak Kecil

“…  Manusia adalah Manusia. Kita sama, dilahirkan di dunia bukan karena kehendak kita sendiri, tapi kehendak Dia yang memberi hidup. Sudah seharusnya, kita memperlakukan manusia sama, tanpa membedakan tampilan atau bahkan kekurangan secara fisik. Manusia bisa berpura-pura. Tetapi Tuhan melihat hati kita, bukan tampilan luar kita bukan? ” – Random Thought

disable_turun_bus

*)Seorang Difable Turun dari Bus Umum

Pagi itu saya sedang duduk di sebuah halte Bus bersama seorang kawan, habis belanja di sebuah supermarket yang khusus menjual makanan dan bahan makanan asia terbesar di kota Nottingham. Kami tidak sedang menunggu bus, tetapi sekedar melepas lelah dan mengumpulkan tenaga untuk melanjutkan jalan kaki ke rumah. Selang beberapa menit, ada sebuah bus berhenti hendak menurunkan penumpang. Tidak seperti biasanya, sopir bus itu turun dan mematikan mesin bus. Kemudian dia menarik lidah pintu bus dan meletakkan di bibir trotoar jalan. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki paruh baya dengan kursi roda turun dari Bus. Dia nampak sangat bahagia, sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih dan menyalami sang sopir. Setelah lelaki berkursi roda itu turun, baru sang sopir mempersilahkan beberapa calon penumpang naik bus.

Sungguh, sebuah pemandangan kemanusiaan yang sangat indah bukan? bagaimana seorang manusia yang kebetulan menjalani takdir hidupnya sebagai orang cacat diperlakukan dengan sangat manusiawi. Setiap manusia berhati nurani, tentunya mengiyakan begitulah seharusnya kita memperlakukan sesama manusia. Kita manusia memiliki hak untuk diperlukan sama.

disable
*)Seorang Difable Naik Kereta Api

Di negeri Inggris inilah saya belajar banyak tentang kemanusian. Bukan dalam teori tanpa arti, tetapi bagaimana prinsip-prinsip kemanusiaan dihargai dan diterapkan. Bagaimana manusia seharusnya memanusiakan manusia. Pemandangan kemanusiaan di atas bukan sekali dua kali saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri, tetapi berkali-kali. Diantara banyak hal yang saya belajar tentang kemanusiaaan adalah tentang bagaimana mereka memperlakukan orang cacat, lansia dan anak kecil.

disable_naikmobil
*)Penyandang Difable Naik Mobil Carteran

Di pelayanan akses public transport misalnya. Sudah menjadi standar wajib, bahwa semua public transport bisa diakses oleh kaum difabel. Selain pintu masuk yang bisa diakses, di dalam bus, kereta, dan public transport lainya harus menyediakan space khusus kaum difabel ini. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kalau para difabel ini tinggal di Jakarta, buat orang normal saja sangat tidak ramah, apa lagi buat mereka. Saya masih ingat, bagaimana saya harus super hati-hati setiap mau naik bus way. Jika tidak, saya bisa jatuh dan terperosok ke bawah halte busway yang tinggi itu.

disabale_space
*) Space khusus Difable dalam Bus/Kereta

Demikian juga untuk akses ke gedung. Fardlu ‘ain hukumnya, gedung tersebut harus bisa diakses oleh kaum difabel. Sehingga bisa dipastikan, setiap gedung bertingkat pasti memiliki pintu akses khusus dan lift untuk para difabel ini. Tidak hanya aksesbilitas, fasilitas gedung pun harus ramah untuk penyandang difabel. Toilet salah satunya, di setiap tingkat gedung harus ada toilet yang dirancang khusus untuk difabel.

toilet_disable_people
*)Toilet Khusus Para Difable

Tempat parkir pun menyediakan space khusus buat difabel. Anda orang normal akan kena denda jika menggunakan space ini. Saya jadi ingat berita di koran beberapa waktu yang lalu. Ada seorang anggota parlemen Inggris yang mengundurkan diri, gara-gara ketahuan menggunakan space parkir khusus untuk difabel. Dia menebus rasa bersalahnya yang dalam itu dengan mengundurkan diri dari parlemen. Padahal, hal itu terpaksa dia lakukan karena space parkir di sebuah pusat perbelanjaan sudah penuh semua. Sungguh, sebuah keteladanan tentang memiliki rasa malu yang perlu ditiru bukan?

disable_parking_space
*)Parking Space khusus buat difable

Bagaimana dengan anggota DPR di Indonesia? Rasanya belum pernah mendengar, ada anggota DPR yang mengundurkan diri karena merasa bersalah dengan rakyat. Padahal, mereka punya dosa besar sama rakyat.


*) Parking space khusus Difable

Di lingkungan akademik demikian juga, untuk menjamin aksesbilitas yang sama, kampus menyediakan pelayanan khusus buat para difabel. Ruang kuliah misalnya, harus dilengkapi dengan alat bantu dengar. Demikian juga untuk yang cacat mata dan wicara, dan cacat tidak bisa menulis, kampus memberikan pelayanan khusus dengan memberikan asisten khusus yang bisa membantu note taking atau membacakan buku bacaan. 

disable_tunarungu
*) Alat Bantu Pendengaran di Bangku Kuliah

Tidak hanya yang cacat fisik. Yang cacat mental pun mendapatkan perlakuan khusus. Seperti kelainan dyslexia yang sangat populer di Inggris. Untuk ujian pun mereka diperlakukan khusus. Saya pernah menjaga ujian untuk orang-orang berkebutuhan khusus ini. Umumnya, mereka diberi waktu yang lebih lama dari mahasiswa normal. Setiap satu jam mereka diberi waktu untuk istirahat selama 15 menit. Ternyata ada diantara mereka yang ternyata memang harus jalan muter-muter setiap satu jam sekali. Mereka memiliki kesulitan untuk belajar, seperti tidak bisa berkonsentrasi lama, kesulitan membaca dan sebagainya. Setelah ujian selesai, buku jawaban mereka dikasih stiker khusus yang isinya memberi tahu ke dosen yang ngajar agar tidak memberi penalti jika ada kesalahan dalam susunan bahasa.

disable_parking
*)parking space untuk Orangtua dengan Anak Kecil

Negeri Inggris ini tidak hanya ramah kepada kaum difabel, tetapi juga ramah buat orang lansia dan anak-anak. Untuk kaum lansia, di tempat-tempat umum biasanya disediakan skuter elektrik yang bisa mereka naiki secara gratis. Demikian juga untuk anak-anak, Seperti trolly belanja di bawah ini, yang di desain khusus buat mereka yang belanja bersama anak kecil.

disable_keranjangbelanjaanak
*)Keranjang Belanja untuk Orang tua dan Anak

Indah, sungguh indah memang jika kita bisa memanusiakan manusia. Siapa sih yang ingin dilahirkan dalam kondisi cacat atau karena sesuatu hal yang membuat kita cacat? Semua tentu bukan kehendak kita bukan? Tuhan punya alasan di balik itu. Bersyukurlah kita yang dilahirkan secara normal. Dan sebagai orang normal sudah seharusnya kita memperlakukan mereka yang berkebutuhan khusus tanpa diskriminasi. Mereka harus kita bantu mendapatkan aksesbilitas yang sama dengan kita.

Di Indonesia, seharusnya sudah ada undang-undang yang melindungi hak-hak aksesbilitas kaum difabel ini. Tapi entahlah, apa saja yang dilakukan anggota DPR itu? Ketika mereka menghabiskan duit rakyat untuk studi banding ke Inggris, apakah mereka tidak melihat bagaimana Inggris memperlakukan orang difabel ini? Itu yang seharusnya mereka pelajari. Entahlah, mungkin hati nurani mereka sedang tertutup awan. Sebagai rakyat jelata, saya hanya bisa berdoa, semoga saja, sahabat-sahabat saya yang kebetulan ditakdirkan berkebutuhan khusus, segera mendapatkan fasilitas dan diperlakukan seperti para difabel di Inggris ini. Semoga saja !


berjalan pun sambil membaca buku

….. orang yang bisa membaca tetapi tidak membaca buku, tidak ada bedanya dengan orang yang tidak bisa membaca.

Hari ini langit di atas bumi Nottingham terlihat mendung. Tetapi tak semendung hati dan semangat ku. Pukul 07.00 pagi, setelah sholat duha, berdoa memohon limpahan ilmu dan rizki yang banyak dan barokah ke yang Maha Memiliki Ilmu dan Pemberi rejeki, seperti biasa aku berjalan menyusuri jalanan kecil di tepi sungai dari rumah menuju ke Lab. di Jubilee Campus, Universitas Nottingham. Entah sudah berapa kali aku menyusuri jalanan ini, mungkin sudah empat ratus kali, atau bahkan lebih. hampir setiap hari dua kali aku menyusurinya, pergi dan pulang ke kampus, tempat ‘kawah candradimuka’ ku itu berada. Jalan ini, suatu saat nanti pasti akan sangat aku rindukan. Saksi bisu yang merekam setiap langkah kaki ku pergi dan pulang mengaji ilmu di kota Nottingham ini.

Di jalan itu, setiap hari selalu ku temukan pelajaran hidup yang berbeda. Perjalanan berharga dari orang-orang yang berbeda yang berjalan dan bersepeda  menyusuri jalan itu. Seperti hari ini aku berpapasan dengan orang yang membaca sambil berjalan cepat. Sudah berjalan nya setengah berlari, sebagaimana gaya berjalan orang Inggris pada umumnya, masih sempatnya membaca buku.  Aku saja, di perpustakaan langsung tertidur setelah kurang dari satu jam membaca buku. Adalah pemandangan biasa, di public transport seperti kereta dan bus di Inggris ini, orang-orang pada terdiam sendiri, asyik dengan buku bacaanya masing-masing. Memang sih terkadang kesan nya mereka cuek dan tidak ramah. Tetapi, harus aku akui terkadang buku lebih enak diajak ngobrol daripada manusia.

Dalam keadaan berdiri di dalam kereta api yang sesak pun, mereka masih sempat membaca. Memang budaya membaca orang Inggris ini sangat  pantas untuk dikagumi. Mungkin berawal dari budaya membaca inilah, mereka mampu menciptakan masyarakat yang terdidik, santun, dan saling menghargai manusia lainya. Yah, membaca adalah salah satu cara tuhan memberikan ilmu kepada hamba nya. Namun budaya membaca memang tidak datang begitu saja, semuanya perlu dibiasakan bukan? salah satu cara aku memotivasi diriku untuk membaca adalah dengan kesadaran bahwa: orang yang bisa membaca tetapi tidak membaca buku, tidak ada bedanya dengan orang yang tidak bisa membaca.

Kita tidak perlu mencari seribu alasan, kenapa mereka rajin membaca sementara kita tidak. Sebenarnya, kalau kita mau jujur bukan karena keadaan seperti ketersediaan buku bacaan yang terbatas yang membuat kita malas membaca. Buktinya, perpustakaan kita pun sepi. Tetapi mari kita menyalahkan diri kita sendiri yang memang pada dasarnya malas untuk membaca. Mulai sekarang, mari kita berjanji pada diri kita sendiri untuk rajin membaca. Jika sehari sebelum tidur kita membiasakan membaca 1 halaman saja, sudah 365 halaman yang kita baca dalam setahun. Membaca adalah salah satu  ikhtiar kita untuk mencari ilmu. Mencari ilmu adalah wajib hukumnya bagi yang berakal sehat, dari sejak kita lahir hingga kita terkubur di alam barzah. Bahkan, Pak Modin pun masih mengajari kita menjawab pertanyaan malaikat saat tubuh kita  telah terbungkus kain kafan (baca: talqin mayit). Semoga Tuhan selalu  menganugerahkan ilmu yang bermanfaat buat kita semua. Allahumma Ammiin.

Sudah berapa halaman anda membaca buku hari ini?

Sumber

Gambar Ilustrasi grabbed from : http://24.media.tumblr.com/c083124dab1e5137c0d08a578284afcd/tumblr_mezimv7jXh1qzhokmo1_500.jpg


Memotret budaya orang UK : Budaya Jalan Kaki

…. memperhatikan tingkah polah umat manusia memang selalu menarik hati saya. apalagi kalau  tingkah polahnya itu  karena berada dalam lingkaran budaya yang berbeda dengan kita.  Di UK, salah satu polah manusia yang menarik untuk direnungkan adalah budaya jalan kaki.

Jalan kaki = Miskin?

sejak tiga bulan terakhir setiap hari saya berjalan kaki kurang lebih 20 menit dari rumah ke kampus, dan 20 menit dari kampus kembali ke rumah. Ternyata jalan kaki itu sungguh terasa nikmat sekali. Padahal sebulan pertama di Nottingham, biasanya saya selalu naik hopper bus gratis yang disediakan kampus yang menghubungkan 4 kampus utama Universitas Nottingham yang datang setiap 15 menit sekali. Iyalah, logikanya ngapain capek-capek jalan kaki, kan mending naik bus, tinggal duduk, nyampek tempat tujuan.

Rupaya, logika cost-benefit itu tidak selalu benar. Dari awalnya memperhatikan banyak orang yang jalan kaki, akhirnya saya menemukan kenikamatan dalam jalan kaki ini. Dari rumah pertama saya harus menyeberang sebuah jalan raya.  Tapi ndak perlu takut nyeberang seperti di kota besar di Indonesia, disini tinggal pencet tombol di tiang trafik light, beberapa detik kemudian semua kendaraan yang lewat di Jalan Raya hukum nya “fardlu a’in” untuk berhenti. Mereka harus berhenti, untuk memberi hormat dan mempersilahkan si pejalan kaki menyeberang terlebih dahulu. Itulah alasan pertama saya senang Pejalan kaki. Disini, pejalan kaki adalah Raja dan Ratu Jalanan, hehe.

Lepas dari jalan raya, medan selanjutnya adalah menyusuri sebuah sungai. Ada sebuah sungai kecil yang airnya jernih sekali, sangking jernihnya batu-batu kali di dasar sungai itu terlihat sangat jelas. Di pinggir sungai adalah rerumputan hijau yang menyejukkan mata, yang menjadi pembatas antara bibir sungai dan jalur pedistrian ‘footpath’  di sepanjang sungai itu. Rumput nan hijau dan air jernih yang berggemericik adalah terapi alami untuk penyejuk mata dan telinga yang indah nya tak terkira. Di sungai itu juga terdapat beberapa pasang bebek yang terkadang berenang melawan arus. Mereka seolah asyik dengan dunia nya mereka sendiri, tanpa sedikit pun terusik oleh manusia yang berlalu lalang menyusuri pinggiran sungai. Tidak hanya bebek, terdapat juga gerombolan berbabagai jenis burung dengan bulu-bulu nya yang indah berwarna-warni  yang berterbangan di atas aliran sungai itu yang seolah menyempurnakan harmoni keindahan alam pagi itu.

Saya tidak sendirian di  jalan pinggiran sungai itu, banyak pejalan kaki lain yang  berlalu lalang menyusuri sungai itu. Sesekali berpapasan dengan orang yang ramah, yang menyapaku dengan ‘good morning, darling !’ dengan senyumnya yang tulus. Biasanya yang menyapa seperti ini adalah perempuan paruh baya. Ada juga yang menyapa saya dengan ‘Assalamu ‘alaikum, brother ! ‘ yang menyapa demikian biasanya adalah lelaki berkebangsaan pakistan. Tetapi lebih seringnya, kita tidak saling menyapa. Karena apa? Karena mereka jalanya cepet sekali. Saya selalu disalip sama orang yang di belakang saya. Bahkan, dengan kecepatan normal saya, saya bisa disalip sama seorang Bapak tua yang sudah renta dan memakai tongkat.  Dan parahnya, walaupun malu, saya ndak mampu mengejarnya dengan berjalan normal saya.

Setelah menysuri sungai, saya harus menyebrang jalan raya lagi yang kemudian membawa saya ke dalam hutan cemara. Pohon cemara inilah, satu-satunya pohon yang masih terlihat hijau ketika musim dingin. Keluar hutan cemara , saya bertemu dengan sebuh padang rumput hijau yang sangat luas dan tertata rapi,  bak permadani hijau yang terhampar sejauh mata memandang. Jika musim dingin tiba, padang rumput ini berubah menjadi hamparan salju yang memutih seperti gundukan kapas. Saya selalu bertemu dengan burung gagak hitam legam disini, burung mitos nya orang jawa. Terkadang bertemu juga dengan burung yang bulunya indah sekali yang tidak takut sedikit pun dengan manusia yang berlalu lalang disitu. Dan yang pasti, gerombolan angsa-angsa berbulu coklat yang lehernya panjang akan menyapa kehadiran saya di gerbang kampus.

Terasa memang bedanya jalan kaki disini sama jalan kaki di Indonesia. Di Jakarta ,  Surabaya atau kota besar lainya, kalau berjalan  kaki , entah kenapa perasaan merasa sebagai kaum yang termarjinalkan yang dipandang sebelah mata oleh para pengemudi mobil-mobil mewah yang  dengan angkuhnya berlalu lalang itu, selalu bergelayut di hati. Tetapi disini, apa yang anda naiki sama sekali tidak kaitanya dengan gengsi dan status sosial. Walaupun mobil disini dapat dibeli dengan harga gaji bulanan UMR, tetapi masih banyak orang yang memilih menggunakan public transport, naik sepeda, atau berjalan kaki.

Sungguh, saya sangat merindukan suasana seperti ini,  bahwa kehormatan seseorang, status sosial seseorang itu sama sekali tidak ada kaitanya dengan kendaraan yang dia pakai, itu terjadi di negeri kami, Indonesia.

*)picture taken from: http://celtichealthcare.com/wp-content/uploads/2011/10/elderly-walking.jpg


Sketsa Umar Kayam

Mangan Ora Mangan Kumpul

zerosugar

for Ind-ONE-sia

Langsung Kunjungi DZOFAR.COM Saja Ya!!

Abaikan Blog ini Kakak. Blog saya DZOFAR.COM yah.. Terimakasih..

Sebuah Perjalanan, Sebuah Perjuangan

Perspektif Pribadi tentang Kehidupan

duniadev

satu kisah biasa

Tulisan-ku

collection_of_my_stories_,_thoughts_,_imaginations_,_etc

Agustri Weblog

Mari Bercerita, Themesnya Ganti Biar Seger (Kayak minuman :D)

ngaji di Nottingham

a chapter of life, a note to remember from my Phd Life

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,015 other followers